Kamis, 13 September 2012

Belalang In Love

Hari itu Belalang kena sidang dari sahabatnya si Kecebong dan si Keong.  Bermula dari kecurigaan Kecebong yang mengira sahabat nya ini adalah lesbian, karena menurut dia si Keong adalah pejantan yang paling tampan, tetapi si Belalang betina ini tetap saja tidak melirik si Keong.

“Spesies-spesies yang hidup disini tuh gak ada yang ngeraguin ketampanannya si Keong, kenapa kamu bisa gak jatuh cinta dengan si Keong?”

“Aku bilang aku tidak suka dia Kecebong…. jangan paksa”, ucap Belalang yang mulai bosan dengan persidangan malam itu.

“Kamu yakin? Di wilayah ini tidak ada betina yang menolak ketampanan ku padahal, apa yang kamu cari? Atau jangan-jangan benar dugaan si Kecebong, kamu lesbi?” tambah Keong penuh selidik.

“Heei… jangan asal kalau bicara, aku normal. Nanti saja, nanti juga akan ada yang duduk disini, disamping aku”, kata Belalang sambil membersihkan batu kecil disampingnya.

“Aku berani bertaruh kalau kamu saja tidak tau siapa yang akan duduk disamping kamu itu nantinya, iya kan?” potong Kecebong yang hanya dibalas senyum-senyum manis si Belalang.

Malam itu Kecebong memutuskan untuk mengambek dengan Belalang, karena dia merasa gagal sebagai sahabat yang tidak bisa mencarikan pasangan untuk Belalang si sahabatnya, sedangkan dia akan mendapatkan anak yang ketiga dari pasangannya.

Jalanan yang masih becek sehabis hujan sore itu memang membuat Belalang iseng menyipreti si Keong dengan genangan air. Tapi si Keong tetap saja terdiam, membiarkan sahabatnya itu terus berceloteh tanpa henti tentang hari-harinya.

“Kamu kenapa sih Keong, dari tadi diem aja? Kamu gak mau nganterin aku ya?” Tanya si Belalang.
“Aku tuh tampan gak sih?” hanya kalimat itu yang terlontar, dan si Belalang seakan hafal apa yang difikirkan sahabatnya itu selama diperjalanan pulang.

“Yaaa ampun, dari tadi diem gara-gara ini doang? Kamu tampan kok, tapi buat mereka”.
“Maksudnya?” Tanya si Keong.
“Maksudnya… itu depan udah rumah aku, jadi sampai ketemu besok pagi ya, dah Keong makasih ya udah nganterin aku”. Dan si Keong tetap saja memasang raut muka semrawut.

Setelah masuk kamarnya si Belalang buru-buru menyambar bantalnya sambil memandang ke atap kamarnya yang langsung bertemu si langit.

Tuhan.. Kecebong bilang aku lesbi, tau kenapa? Karena aku gak suka sama Keong.
Aku fikir Kecebong mulai menggila, atau mungkin mantranya si Keong sudah membabi buta.
Ah aku fikir cinta tanpa ketampanan itu bukan masalahkan Tuhan? Tapi mungkin ketampanan bisa jadi sesuatu yang paling berharga, tapi itu beda kasus kan?
Lalu menurut-Mu aku ini lesbi?
Kalau saja saat itu aku tidak bertengkar dengan para cupid Mu, mungkin si Kecebong tidak akan terlalu kesal. Kecebong bilang, “Cupid hanya pengantar, jadi berteman lah dengan baik agar pasanganmu tersampaikan dengan baik pula”.
Memangnya pasangan tidak bisa hadir sendiri Tuhan? Iyaaa tanpa para cupid, aku masih enggan dengan para cupid Mu, Tuhan…
Tuhan, masih nyimpen ceritaku tentang usilnya para cupid Mu kan?
Lain kali aku akan menyuruh si Kecebong untuk menyapa dan mengobrol dengan cupid Mu, agar aku dapat menyapa pasangan ku, yaaa hanya sebentar saja.
Hmmm…..
Tuhan, kenapa hari ini tidak ada bintang jatuh?

Dan Belalang terbuai dengan gelap nya langit sambil memandang kesal para bintang yang daritadi terus saja mengejek dia dengan kelipnya. Sampai akhirnya si Belalang malah tertidur sebelum bintang menyelesaikan leluconnya.

Hai Belalang begitu kerennya kah mimpimu? Padahal aku akan melompat ke bumi, tidak adakah permohonan?

“Haaai Keong… coba lihat siapa yang berfoto dengan ku ini”, ucap Belalang yang langsung menyodorkan selembar kertas foto hasil jempretan kamera Polaroid.

“Looh ini kan si Cangcorang, ngapain dia balik lagi kesini? Ini foto di toko bunganya pak Marmut kan?”
“Ih sewot banget, iya ini Cangcorang makin kece ya, tadi pagi pas aku anter biji bunga matahari ke pak Marmut aku ketemu dia, jadi ngobrol-ngobrol gitu deh, kamu tau gak dia itu mau menetap disini untuk waktu yang lama dan kamu tau apa, aku dikasih gelang sama dia, dia bilang ini gelang dia bikin sendiri waktu dia di rawa Ge..Geee.. Ge apa yaaa aku lupa yong, ahh kamu selalu pasang muka aneh tiap aku cerita si Cangcorang. Kita nyari sarapan di rumah Kecebong aja yuk….”.

 gambar dari sini

Ini sebenarnya bukan  cerpen atau cerita bersambung sejenis nya. Ini tuh curhat, tapi 70% atau malah 85% ceritanya hanya rekayasa semata ahahahaaa. Lalu apa ya namanya? Hmmm….. namanya cingcong. Karena kebenaran di tulisan ini hanya 10-30 persen saja. Seperti banyak bualan tapi hanya beberapa bagian saja atau sedikit bagian saja yang bukan bualan, jadi tulisan ini dikasih label “cingcong”. Ehehehheeee. . . .

6 komentar:

covalimawati mengatakan...

jd si belalang itu siapa sbnrnya?.. hihihi.. :P
Baca ini jd geli, inget tmnku yg suka ngatain org "dasar keong lo!!"
:D

Jumpa lagi Shally.. lama tak jumpa ya.. kangeeen.. hehe.. Aku jg lg lemot BW nih. Lg sok sibuk.. halah.. :D

Mayya mengatakan...

Curhat gak jelas iniiiih? Gak nyambuuuuung hahahaha....

JejakShally mengatakan...

@Mba Cova : hayoo tebak siapa dia? sama aku juga kangen sama mba hehehheeee kayak udah lamaa banget gak ketemu (ehh padahal emang blom pernah ketemu ya kita) ehehehhehee

@Mba Mayya : iya mba, klo kata anak jaman sekarang mah aku random abiiis ahahahhahaaa...

Ahmad Saadillah mengatakan...

cerita yang menarik...

salam kenal
komentarin artikel ini ya

http://www.timkomte.com/2012/09/traffic-pengunjung-rumahku-turun.html

JejakShally mengatakan...

@Ahmad Saadilah : makasih banyak :D

Mohamad Rivai mengatakan...

Curcol ya???

cewek kok tampan sih??
aq jadi bingung sama belalang :D